RakyatBerhakTau — Ermanto Usman (65), pensiunan sekaligus pejuang serikat pekerja PT Jakarta International Container Terminal (JICT), ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan bersimbah darah di kediamannya, Kelurahan Jatibening, Bekasi, Senin pagi (2/3/2026). Istrinya, Pasmilawati, saat ini berjuang mempertahankan nyawa dalam kondisi kritis setelah mengalami serangan brutal yang sama.
Kematian Ermanto diduga kuat bukan perampokan biasa, melainkan upaya pembungkaman terencana. Sebelum wafat, ia dikenal sebagai sosok paling vokal membongkar dugaan skandal korupsi perpanjangan kontrak JICT-Pelindo II, yang menurut audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI merugikan negara hingga Rp4,08 triliun.
Hanya beberapa bulan sebelum meninggal, Ermanto aktif memberikan kesaksian di berbagai podcast dan platform digital, termasuk menyebutkan nama-nama tokoh besar yang diduga terlibat dalam pusaran korupsi tersebut. Anak sulung korban, Fiandy A Putra (33), menegaskan bahwa ayahnya sadar risiko maut demi membela nasib pekerja dan menjaga aset negara.
“Bapak saya berjuang untuk membuka kebenaran dan memperjuangkan orang-orang kecil di lapangan. Ia tahu risikonya, tapi tetap memilih berkata benar,” ungkap Fiandy.
Kematian Ermanto memunculkan pertanyaan besar di publik: apakah suara kebenaran di negeri ini kini dibungkam oleh kekuatan mafia dan korupsi hingga mengancam nyawa? Jika membongkar skandal triliunan rupiah bisa berujung maut, maka ruang bagi integritas dan kejujuran semakin sempit.
Kasus ini kini berada di tangan Subdit Jatanras Polda Metro Jaya, yang tengah menyelidiki apakah pelaku hanya eksekutor lapangan atau ada benang merah hingga ke level aktor intelektual di Jakarta.
Ermanto Usman meninggalkan warisan perjuangan yang menjadi pengingat keras bahwa kebenaran dan keadilan di Indonesia tetap harus diperjuangkan, meski menghadapi risiko yang luar biasa besar.