Rakyat Berhak Tau – Dunia politik Indonesia mengenal nama Desmond Junaidi Mahesa sebagai sosok vokal dan berani di parlemen. Julukan “Singa Senayan” melekat padanya karena keberaniannya mengkritik pejabat dan aparat penegak hukum saat menjabat di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, khususnya di Komisi III yang membidangi hukum.
Namun di balik reputasi itu, perjalanan hidup Desmond dimulai dari kondisi yang sangat sederhana. Ia lahir di Banjarmasin, dari keluarga petani dan pedagang kecil. Untuk membiayai pendidikan, Desmond harus bekerja keras sejak muda.
Saat menempuh pendidikan hukum di Universitas Lambung Mangkurat, ia pernah menjalani berbagai pekerjaan kasar, mulai dari kuli bangunan, petugas kebersihan, hingga penarik becak di sekitar pasar pada malam hari. Semua itu dilakukan demi membiayai hidup dan pendidikannya.
Semangat perjuangan itu berlanjut ketika Desmond menjadi aktivis pro-demokrasi di masa pemerintahan Soeharto.
Pada periode menjelang reformasi 1998, ia menjadi salah satu aktivis yang mengalami penculikan dalam gelombang penindasan terhadap gerakan demokrasi.
Setelah era reformasi, Desmond terjun ke dunia politik dan akhirnya terpilih menjadi anggota DPR pada 2009. Di parlemen, ia dikenal sebagai politisi yang tegas dan ceplas-ceplos, kerap melontarkan pertanyaan tajam kepada pejabat, jenderal polisi, hingga jaksa dalam berbagai rapat kerja.
Keberaniannya itu membuatnya disegani sekaligus ditakuti oleh banyak pejabat yang berhadapan dengannya di ruang rapat DPR.
Hingga wafat pada Juni 2023, Desmond tetap dikenang sebagai sosok politisi yang lahir dari rakyat kecil namun mampu mengguncang panggung politik nasional. Kisah hidupnya menjadi pengingat bahwa integritas dan keberanian sering lahir dari perjalanan hidup yang penuh perjuangan.