Rakyat Berhak Tahu — Suasana Idulfitri 1447 H di halaman Gedung Sate berubah menjadi momen penuh haru sekaligus refleksi keras bagi pemerintah.
Di hadapan ribuan jamaah Salat Id, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Jawa Barat.
Dengan nada jujur dan tanpa basa-basi, ia mengakui masih banyak persoalan mendasar yang belum terselesaikan.
Jalan Rusak, Rumah Bocor, hingga BPJS Tak Aktif
Dalam sambutannya, Dedi menyoroti berbagai realitas yang masih dihadapi rakyat:
– Infrastruktur jalan rusak di pelosok desa,
– Rumah warga yang bocor saat hujan,
– Hingga akses layanan kesehatan yang terhambat karena BPJS tidak aktif.
“Seharusnya hal-hal seperti itu tidak terjadi,” tegasnya di hadapan jamaah.
Pernyataan ini sontak menjadi pengingat bahwa di balik perayaan hari kemenangan, masih ada rakyat yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Kritik Terbuka: Banyak Pungutan, Rakyat Belum Sejahtera
Tak berhenti di situ, Dedi juga melontarkan kritik tajam terhadap tata kelola anggaran pemerintah.
Ia menyinggung masih banyaknya pungutan yang dibebankan kepada masyarakat, namun tidak sebanding dengan peningkatan kesejahteraan.
“Dengan begitu banyak pungutan, apakah kita sudah lebih sejahtera?” ujarnya lantang.
Pernyataan ini menjadi tamparan keras, tidak hanya bagi pemerintah daerah, tetapi juga bagi sistem birokrasi secara keseluruhan.
Pendidikan dan Ekonomi Masih Jadi PR Besar
Dedi juga menyoroti kondisi anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan layak serta tekanan ekonomi yang masih dirasakan banyak keluarga.
Menurutnya, pemimpin tidak boleh menutup mata terhadap realitas tersebut.
“Pemimpin sejati tidak boleh diam ketika rakyatnya masih menderita,” tegasnya.
Janji Perbaikan: Pelayanan Harus Berpihak ke Rakyat
Di akhir sambutannya, Dedi kembali menyampaikan permohonan maaf dan menegaskan komitmennya untuk terus membenahi pelayanan publik.
Ia berjanji akan memastikan kebijakan pemerintah lebih berpihak kepada masyarakat, terutama kelompok yang paling membutuhkan.
Momen ini pun menjadi refleksi mendalam di hari kemenangan: bahwa keberhasilan pemerintah bukan diukur dari program semata, tetapi dari sejauh mana rakyat benar-benar merasakan keadilan dan kesejahteraan.