Indonesia Tawarkan Visi Asia Tangguh dari Singapura, Fokus pada Pangan, Energi, dan Industri Hijau
Rakyat Berhak Tau – Kunjungan ke Singapura kali ini menjadi momentum penuh makna bagi Prabowo Subianto. Dua dekade setelah pernah menempuh studi magister di Nanyang Technological University sebagai perwira muda, ia kembali ke negara tersebut untuk menghadiri Ecosperity Week 2026 pada 19 Mei 2026.
Kehadiran itu berlangsung atas undangan Teo Chee Hean, Chairman . Dalam forum yang mempertemukan para pemimpin dunia usaha, investor global, dan pengambil kebijakan tersebut, Presiden menyampaikan keynote speech berjudul “From Coastlines to Common Ground: Building a Resilient and Sustainable Asia.”
Pidato tersebut tidak sekadar menawarkan narasi diplomasi. Indonesia membawa pesan besar: pembangunan masa depan Asia harus dibangun di atas ketahanan, keberlanjutan, dan manfaat nyata bagi rakyat kecil.
Di hadapan investor global, Presiden menegaskan tiga arah besar pembangunan Indonesia.
Pertama, pertumbuhan yang tangguh harus dimulai dari keseriusan politik dan keberpihakan kepada rakyat. Fokus utama pemerintahan disebut sangat jelas: mencapai kedaulatan pangan, energi, dan air. Menurutnya, pembangunan tidak boleh berhenti pada indikator makroekonomi semata, tetapi harus menghasilkan dampak langsung yang dirasakan masyarakat.
Komitmen itu juga diwujudkan melalui target pengembangan lebih dari 75 GW energi terbarukan, sebagai fondasi ketahanan nasional jangka panjang.
Kedua, infrastruktur diposisikan bukan hanya proyek fisik, melainkan instrumen penyelamat kehidupan. Presiden mencontohkan bagaimana infrastruktur menjadi penopang pemulihan masyarakat pascabencana, termasuk di Aceh dan Sumatera pasca bencana besar.
Ia juga menyinggung proyek Giant Sea Wall Pantai Utara Jawa yang diproyeksikan menjadi benteng perlindungan terhadap ancaman perubahan iklim, sekaligus menjaga ketahanan pangan dan keselamatan jutaan warga.
Ketiga, Indonesia menegaskan posisinya sebagai pemain utama industri masa depan. Saat ini Indonesia menyuplai sekitar 60 persen kebutuhan nikel dunia. Namun arah kebijakan nasional tidak lagi sekadar mengekspor bahan mentah.
Melalui strategi hilirisasi, Indonesia ingin keluar dari posisi pemasok pasif menuju negara dengan nilai tambah industri tinggi. Selain itu, potensi panas bumi atau geothermal juga dipandang sebagai kekuatan strategis energi bersih yang stabil untuk menopang industri hijau nasional.
Dalam pidatonya, Indonesia juga menegaskan keterbukaan kerja sama dengan berbagai mitra dunia, mulai dari Amerika Utara, Eropa, Asia, kawasan Teluk hingga negara-negara Global South.
Namun kerja sama tersebut, ditegaskan, harus dibangun di atas prinsip keadilan, saling menghormati standar, dan manfaat yang dirasakan luas oleh masyarakat.
Di tengah dinamika ekonomi dunia yang terus berubah, Asia dinilai sedang berada di titik sejarah penting. Arus modal, investasi, dan kebijakan yang diputuskan hari ini akan menentukan masyarakat mana yang mendapatkan manfaat pada masa depan.
Pesan penutup yang disampaikan menjadi sorotan kuat forum tersebut: keberhasilan bukan diukur dari banyaknya janji atau besarnya angka investasi, melainkan sejauh mana hasilnya benar-benar dirasakan masyarakat kecil ,petani, nelayan, hingga korban bencana yang sedang membangun kembali kehidupannya.
Sebab pada akhirnya, kemitraan sejati bukan dibangun melalui kepentingan sesaat, melainkan melalui kepercayaan, keadilan, dan ketepatan waktu. Indonesia tampaknya ingin memastikan bahwa pertumbuhan Asia tidak hanya besar di atas kertas, tetapi juga terasa hingga lapisan paling bawah masyarakat.
