Rizkan Al Mubarrok: Indonesia Tidak Akan Berubah Hanya Karena Kita Pandai Mencaci
Rakyat Berhak Tau – Ketua AWNI Sumatera, Rizkan Al Mubarrok, menyampaikan pandangannya terkait kondisi demokrasi Indonesia, budaya kritik di ruang publik, serta tantangan besar bangsa dalam menghadapi korupsi yang hingga hari ini masih menjadi pekerjaan panjang seluruh elemen negara.
Menurut Rizkan, demokrasi tidak pernah mengajarkan rakyat untuk diam. Demokrasi juga tidak lahir agar masyarakat takut mengkritik penguasa. Namun ia menegaskan, kritik yang sehat memiliki tujuan memperbaiki keadaan, bukan sekadar melampiaskan kemarahan.
“Kritik adalah hak rakyat. Kritik adalah vitamin demokrasi. Tetapi kritik yang besar selalu lahir dari tanggung jawab besar. Ketika kritik kehilangan data, kehilangan adab, dan kehilangan solusi, maka yang tersisa bukan lagi pendidikan politik, melainkan pertengkaran tanpa arah,” ujar Rizkan.
Ia menilai ruang publik saat ini semakin dipenuhi pertarungan emosi dibanding pertarungan gagasan. Perbedaan pandangan politik yang seharusnya menjadi kekuatan demokrasi justru sering berubah menjadi permusuhan.
Menurutnya, terlalu sibuk memuja tokoh ataupun terlalu sibuk membenci tokoh adalah dua sikap yang sama-sama berbahaya.
“Tokoh politik yang paling kamu banggakan saat ini pun belum tentu bisa langsung meluruskan bangsa ini seperti membalikkan telapak tangan. Memperbaiki negeri sebesar Indonesia bukan pekerjaan satu orang, bukan pula perjuangan semalam.”
Rizkan mengatakan Indonesia merupakan negara besar dengan persoalan yang juga besar. Korupsi, ketimpangan, lemahnya pengawasan, persoalan birokrasi, hingga budaya kekuasaan yang mengakar selama puluhan tahun tidak mungkin diselesaikan secara instan.
Ia mengingatkan masyarakat agar belajar dari perjalanan panjang sejarah bangsa.
“Sejarah telah mengajarkan bahwa pergantian kekuasaan saja tidak otomatis membuat negeri menjadi bersih dari korupsi. Mengganti tokoh jauh lebih mudah dibanding memperbaiki sistem, budaya, dan karakter bangsa.”
Menurutnya, terlalu banyak energi bangsa hari ini habis dalam pertengkaran yang tidak menghasilkan solusi nyata.
“Negara ini tidak akan berubah hanya karena kita pandai mencaci, pandai mengkritik tanpa solusi, atau merasa paling benar sendiri. Bangsa ini berubah ketika rakyat berani mengawasi, berani mengkritik dengan sopan, berbasis data, dan tetap menjaga adab.”
Lebih jauh, Rizkan mengajak masyarakat ikut mengambil bagian dalam perjuangan melawan korupsi di seluruh penjuru Indonesia.
“Mari ikut membantu membongkar praktik korupsi hingga ke pelosok negeri. Jangan biarkan perjuangan memperbaiki bangsa dipikul sendirian. Melawan korupsi bukan tugas Presiden semata, bukan tugas aparat semata, melainkan tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia.”
Di akhir pernyataannya, Rizkan menyampaikan bahwa bangsa besar bukan bangsa yang bebas dari kritik, tetapi bangsa yang mampu menjaga akal sehat di tengah perbedaan.
“Kami tidak mengajarkan masyarakat untuk diam. Kami juga tidak mengajarkan masyarakat untuk takut mengkritik. Tetapi bangsa ini tidak dibangun oleh cacian, tidak diselamatkan oleh kemarahan, dan tidak diperbaiki oleh fanatisme. Indonesia hanya akan berdiri kuat ketika rakyat berani mengkritik dengan adab, berani mengawasi dengan keberanian, dan berani melawan korupsi bersama-sama.”
