Muhammad Yusuf Ronodipuro, Suara Kemerdekaan yang Membuat Dunia Mendengar Nama Indonesia

0
1779652310872


RAKYAT BERHAK TAU – Sejarah Indonesia mencatat banyak nama besar dalam perjuangan kemerdekaan. Namun di balik pembacaan Proklamasi 17 Agustus 1945, ada satu sosok yang perannya kerap luput dari perhatian publik: Muhammad Yusuf Ronodipuro, pemuda yang mempertaruhkan keselamatan demi memastikan dunia mengetahui bahwa Indonesia telah merdeka.
Saat Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan didampingi Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, tantangan besar berikutnya muncul: bagaimana kabar kemerdekaan itu dapat menembus dunia internasional.

Saat itu Yusuf bekerja di Radio Hoso Kyoku, stasiun radio milik Jepang di Jakarta. Kondisi tidak mudah. Radio tersebut berada dalam pengawasan ketat Kempetai, polisi militer Jepang, sementara ruang siaran dijaga ketat dan akses informasi dibatasi.

Perubahan besar datang ketika seorang pegawai Kantor Berita Domei bernama Syahruddin berhasil membawa pesan dari Adam Malik berisi naskah Proklamasi. Yusuf segera mencari cara agar kabar kemerdekaan Indonesia dapat disiarkan keluar negeri.

Dengan memanfaatkan studio siaran mancanegara yang sudah tidak digunakan, Yusuf dan rekan-rekannya mengubah sambungan pemancar radio agar kembali aktif. Tepat sekitar pukul 19.00 WIB, ia membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia melalui siaran internasional. Sekitar 20 menit kemudian, siaran kembali dilakukan dalam bahasa Inggris agar radio-radio luar negeri dapat memahami pesan kemerdekaan Indonesia.

Aksi tersebut menjadi salah satu momen penting dalam sejarah. Dunia akhirnya mendengar bahwa Indonesia telah merdeka.
Namun keberanian itu harus dibayar mahal.
Akibat aksinya, Yusuf dan sejumlah rekannya ditangkap serta mengalami penyiksaan fisik oleh Kempetai Jepang. Sejumlah kisah sejarah populer menyebut ia nyaris kehilangan nyawa akibat tindakan tersebut, meski detail tertentu memiliki versi yang berbeda di berbagai sumber sejarah. Yang terkonfirmasi, Yusuf mengalami penyiksaan setelah penyiaran Proklamasi dilakukan.

Perjuangan Yusuf tidak berhenti di sana. Pada 11 September 1945, ia ikut mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI), yang kemudian menjadi salah satu institusi penting dalam perjalanan bangsa. Dari perjuangan itulah lahir semboyan legendaris:
“Sekali di udara, tetap di udara.”

Muhammad Yusuf Ronodipuro lahir di Salatiga pada 30 September 1919 dan wafat pada 27 Januari 2008. Selain dikenal sebagai tokoh penyiaran, ia juga pernah berkiprah sebagai diplomat Indonesia.

Namanya mungkin tidak selalu hadir dalam buku pelajaran atau percakapan sehari-hari. Namun sejarah menunjukkan, ketika Indonesia baru saja lahir, ada seorang pemuda yang mempertaruhkan keselamatannya agar dunia mengenal nama Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *