Jambi Peringkat 31 Infrastruktur Nasional, Ketua AWNI Sumatera Raya: Ini Alarm Keras yang Tak Boleh Diabaikan
JAMBI – Data GoodStats 2025 yang menempatkan Provinsi Jambi di peringkat ke-31 dari 38 provinsi dalam kualitas infrastruktur nasional memantik perhatian berbagai kalangan. Data tersebut juga menunjukkan Jambi berada di posisi terbawah dibanding provinsi lain di Pulau Sumatera.
Kondisi ini dinilai tidak boleh dipandang sebagai sekadar angka statistik, melainkan sebagai cermin nyata yang harus dijadikan bahan evaluasi serius bagi seluruh pemangku kebijakan.
Ketua Dewan Perwakilan Aliansi Wartawan Nasional Indonesia (AWNI) se-Sumatera Raya sekaligus Ketua AWNI Provinsi Jambi, Rizkan Al Mubarrok, menyebut hasil pemeringkatan tersebut sebagai “alarm keras” yang harus dijawab dengan langkah konkret dan keberanian melakukan pembenahan.
Menurut Rizkan, infrastruktur merupakan fondasi utama pembangunan daerah. Kualitas jalan, jembatan, transportasi, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, hingga konektivitas antarwilayah sangat menentukan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
“Jika data ini benar menunjukkan Jambi berada di peringkat 31 nasional, maka seluruh pihak harus menjadikannya sebagai bahan introspeksi bersama. Jangan sibuk mencari pembenaran, tetapi carilah solusi. Rakyat membutuhkan perubahan yang nyata,” tegas Rizkan Al Mubarrok.
Ia menilai masih terdapat ketimpangan pembangunan yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah, khususnya daerah pinggiran dan kawasan yang memiliki potensi ekonomi besar namun belum didukung infrastruktur yang memadai.
Padahal, kata dia, Jambi merupakan daerah yang kaya sumber daya alam dan memiliki posisi strategis di Pulau Sumatera. Potensi tersebut seharusnya mampu menjadi modal besar untuk mempercepat pembangunan dan meningkatkan daya saing daerah.
“Jambi memiliki minyak, gas, batu bara, perkebunan, pertanian, hingga potensi pariwisata yang luar biasa. Sangat ironis apabila daerah yang kaya sumber daya justru masih tertinggal dalam kualitas infrastruktur,” ujarnya.
Rizkan menegaskan bahwa kritik yang disampaikannya bukan untuk menyerang pihak tertentu, melainkan bentuk kepedulian terhadap masa depan daerah yang dicintainya.
Sebagai putra asli Jambi, ia mengaku memiliki tanggung jawab moral untuk terus menyuarakan kepentingan masyarakat dan mendorong percepatan pembangunan yang berkeadilan.
“Kritik adalah bagian dari kecintaan terhadap daerah. Jika kita mencintai Jambi, maka kita harus berani mengatakan apa yang perlu diperbaiki. Tujuannya bukan menjatuhkan siapa pun, melainkan agar pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat hingga ke pelosok,” katanya.
Ia juga mendorong agar pemerintah daerah dan pemerintah pusat memperkuat sinergi dalam pembangunan infrastruktur strategis yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari akses jalan, sarana pendidikan, fasilitas kesehatan, hingga konektivitas ekonomi antarwilayah.
Merujuk berbagai publikasi yang mengutip data GoodStats 2025, pemeringkatan kualitas infrastruktur tersebut didasarkan pada sejumlah indikator yang berkaitan dengan daya saing daerah dan kualitas layanan infrastruktur. Beberapa laporan juga mencatat masih adanya tantangan pemerataan pembangunan di berbagai wilayah Indonesia.
Bagi Rizkan Al Mubarrok, momentum ini seharusnya menjadi titik balik untuk mempercepat pembangunan yang lebih merata, terukur, dan berpihak kepada kepentingan rakyat.
“Pembangunan yang berhasil bukan yang hanya terlihat megah dalam laporan, tetapi yang manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Jalan yang baik, sekolah yang layak, akses kesehatan yang mudah, dan ekonomi yang bergerak adalah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya,” pungkasnya.
