Ermanto Usman Ditemukan Tewas di Bekasi, Sosok yang Pernah Soroti Dugaan Korupsi Pelindo Rp4,08 Triliun

Peristiwa tragis menimpa Ermanto Usman (65), seorang pensiunan karyawan Jakarta International Container Terminal (JICT). Ia ditemukan meninggal dunia di rumahnya di kawasan Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi, pada Senin (2/3/2026).
Korban ditemukan dalam kondisi bersimbah darah di dalam kamar, sementara istrinya yang berada di lokasi yang sama mengalami luka berat dan saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Diketahui Anak Menjelang Waktu Sahur

Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh anak korban menjelang waktu sahur.
Ia merasa ada yang tidak biasa karena hingga mendekati waktu imsak kedua orang tuanya tidak membangunkannya seperti biasanya.
Sekitar pukul 04.00 WIB, ia turun dari lantai atas untuk memeriksa keadaan rumah. Saat mencoba membuka pintu kamar orang tuanya, ia mendapati gagang pintu dalam kondisi rusak.
Setelah pintu berhasil dibuka, ia menemukan ayahnya sudah tidak bernyawa dengan sejumlah luka serta darah di sekitar tubuhnya. Sementara ibunya ditemukan dalam kondisi luka parah.
Polisi juga mencatat adanya beberapa barang milik korban yang hilang, di antaranya gelang emas serta dua kunci mobil.

Dikenal Aktif Menyoroti Isu Kepelabuhanan

Semasa hidupnya, Ermanto dikenal sebagai Ketua Paguyuban Pensiunan Karyawan JICT. Ia cukup aktif menyuarakan berbagai persoalan terkait pengelolaan pelabuhan.
Beberapa waktu sebelum kejadian, ia sempat membahas dugaan permasalahan kerja sama pengelolaan terminal pelabuhan antara Pelindo dan perusahaan Hutchison Port Holdings yang berbasis di Hong Kong dalam sebuah podcast pada Desember 2025.
Dalam pembahasan tersebut disebutkan bahwa audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan potensi kerugian negara sekitar US$360 juta atau sekitar Rp4,08 triliun terkait kontrak baru antara PT Pelindo II dan perusahaan tersebut.

Keluarga Curigai Ada Unsur Lain

Pihak keluarga menilai kematian Ermanto tidak sekadar aksi perampokan biasa.
Putra korban, Fiandy A Putra, menyebut ayahnya selama ini dikenal berani menyampaikan berbagai persoalan di sektor kepelabuhanan. Keluarga pun menyadari bahwa sikap kritis tersebut memiliki risiko.
DPR Minta Penyelidikan Menyeluruh
Anggota Komisi VI DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, turut menyoroti peristiwa ini dan meminta aparat penegak hukum melakukan penyelidikan secara menyeluruh.
Menurutnya, penting untuk memastikan apakah kejadian ini murni tindak kriminal biasa atau ada kemungkinan motif lain yang perlu diungkap secara transparan.
Saat ini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku, motif, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam peristiwa yang menewaskan Ermanto Usman tersebut.

“Seorang pensiunan yang pernah menyoroti dugaan kerugian negara Rp4 triliun kini ditemukan tewas mengenaskan di rumahnya. Perampokan biasa atau ada cerita lain di baliknya? Publik menunggu kebenaran diungkap.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *