RAKYAT BERHAK TAU — Ketua Dewan Perwakilan Aliansi Wartawan Nasional Indonesia (AWNI) Sumatera Raya, Rizkan Al Mubarrok, menegaskan bahwa masa depan pembangunan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan di daerah. Ia berpandangan, setiap daerah idealnya dipimpin oleh putra-putri terbaik dari wilayahnya sendiri, dengan syarat memiliki kapasitas tinggi dan tetap sejalan dengan visi besar pemerintah pusat.
Dalam keterangannya, Rizkan menyebut bahwa kepemimpinan lokal yang kuat bukan sekadar soal asal-usul, melainkan soal kedalaman pemahaman terhadap realitas sosial, budaya, dan kebutuhan riil masyarakat. Menurutnya, pemimpin yang lahir dari daerah memiliki keunggulan dalam membaca persoalan secara presisi, sehingga kebijakan yang dihasilkan lebih tepat sasaran.
“Putra daerah terbaik memiliki kepekaan sosial dan tanggung jawab moral yang lebih kuat. Mereka tidak hanya memimpin secara administratif, tetapi juga secara emosional dan kultural,” ujarnya.
Analisa Mendasar: Sintesis Lokal dan Nasional
Dalam perspektif Ilmu Politik, Rizkan menilai Indonesia membutuhkan sintesis kepemimpinan yang menggabungkan dua kekuatan utama: akar lokal yang kuat dan arah nasional yang terintegrasi.
Ia menekankan bahwa banyak kegagalan pembangunan daerah selama ini bersumber dari ketidaksinkronan antara kebijakan pusat dan implementasi di daerah. Di sisi lain, ada pula kepemimpinan lokal yang kuat secara identitas, namun lemah dalam menyelaraskan program dengan agenda nasional.
“Di sinilah titik krusialnya. Pemimpin daerah tidak boleh berjalan sendiri. Mereka harus menjadi perpanjangan visi nasional, bukan sekadar penguasa wilayah,” tegas Rizkan Al Mubarrok.
Dukungan pada Visi Nasional
Rizkan juga menegaskan pentingnya dukungan penuh terhadap arah kepemimpinan nasional, termasuk visi pembangunan yang diusung Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, tanpa keselarasan ini, pembangunan akan berjalan tidak efektif dan berpotensi menciptakan ketimpangan antar daerah.
Ia menilai, sinergi antara pusat dan daerah merupakan kunci percepatan pembangunan, terutama dalam menghadapi tantangan global, transformasi ekonomi, serta pemerataan kesejahteraan.
Catatan Kritis: Meritokrasi Tidak Boleh Dikorbankan
Meski mendorong kepemimpinan oleh putra daerah, Rizkan mengingatkan bahwa prinsip tersebut tidak boleh mengabaikan meritokrasi. Kompetensi, integritas, dan kapasitas kepemimpinan harus tetap menjadi syarat utama.
“Ini bukan soal asal daerah semata. Ini tentang putra daerah terbaik,yang punya kualitas, visi, dan keberanian untuk membangun,” ujarnya.
Menuju Model Kepemimpinan Ideal
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, Rizkan memandang model kepemimpinan ini sebagai jalan tengah yang rasional: menjaga kedekatan sosial dengan masyarakat, sekaligus memastikan arah pembangunan tetap satu komando secara nasional.
Ia optimistis, jika konsep ini diterapkan secara konsisten, Indonesia akan memiliki fondasi kepemimpinan daerah yang kuat, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman.
“Daerah yang dipimpin oleh putra terbaiknya, dan berjalan seirama dengan visi nasional, akan melahirkan pembangunan yang bukan hanya cepat, tetapi juga adil dan berkelanjutan,” pungkas Rizkan Al Mubarrok.