Prabowo Kumpulkan Tokoh Ekonomi Senior di Istana, Bahas Antisipasi Krisis dan Stabilitas Keuangan Nasional

0
1779541609537-1

Rakyat Berhak Tahu — Di tengah dinamika ekonomi global yang terus bergerak dan penuh ketidakpastian, Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan strategis bersama sejumlah tokoh ekonomi senior nasional di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Pertemuan tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Pemerintah terlihat tengah membaca situasi global dengan pendekatan yang lebih hati-hati: belajar dari sejarah, mengumpulkan pengalaman para pelaku kebijakan masa lalu, lalu menyusun langkah antisipasi untuk menghadapi potensi gejolak ekonomi di masa depan.

Dalam pertemuan itu, Presiden didampingi oleh Airlangga Hartarto serta Purbaya Yudhi Sadewa.
Sementara dari jajaran tokoh ekonomi senior hadir sejumlah nama yang pernah terlibat langsung dalam pengelolaan kebijakan ekonomi nasional, di antaranya Burhanuddin Abdullah, Paskah Suzetta, dan Lukita Dinarsyah Tuwo.
Pemanggilan para tokoh senior ini memberi pesan penting bahwa pemerintah tidak ingin hanya bereaksi ketika krisis datang, tetapi berupaya menyiapkan peta jalan mitigasi sejak dini.

Secara historis, Indonesia pernah mengalami sejumlah guncangan besar ,mulai dari krisis moneter 1998, gejolak keuangan global 2008, hingga tekanan ekonomi saat pandemi. Setiap periode menghadirkan pola berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: ketahanan ekonomi nasional sangat bergantung pada kecepatan membaca risiko dan ketepatan mengambil keputusan.
Karena itu, pertemuan di Istana dapat dibaca sebagai upaya menggabungkan dua hal: pengalaman masa lalu dan strategi masa depan.

Dari perspektif ekonomi, langkah Prabowo mengumpulkan para mantan pengambil kebijakan menunjukkan pendekatan institutional memory atau memanfaatkan memori kelembagaan. Negara-negara besar sering menggunakan pola serupa ketika menghadapi ancaman ketidakpastian global: melibatkan orang-orang yang pernah melewati krisis secara langsung.
Di tengah perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, fluktuasi nilai tukar, hingga perubahan rantai pasok dunia, stabilitas sektor keuangan memang menjadi perhatian utama banyak negara.

Belum ada pernyataan resmi detail mengenai hasil pertemuan tersebut. Namun sinyal politik dan ekonominya cukup jelas: pemerintah tampaknya ingin memastikan Indonesia tidak lagi sekadar menjadi penonton saat badai ekonomi global datang.
Karena dalam sejarah, krisis sering kali datang bukan saat negara tidak memiliki sumber daya, tetapi ketika negara terlambat membaca tanda-tandanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *