Kementan Tegaskan Peran Sistem Veteriner dalam Menjaga Ketahanan Pangan Nasional

0
1777387981651

RAKYAT BERHAK TAU — Penguatan sistem veteriner nasional dinilai menjadi kunci dalam menjaga stabilitas dan kedaulatan pangan Indonesia, khususnya di tengah dinamika global yang kian kompleks. Hal ini mengemuka dalam Seminar Nasional Dies Natalis Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada yang digelar pada Rabu (22/4/2026).

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, I Ketut Wirata, menegaskan bahwa sistem veteriner memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
“Penguatan sistem veteriner menjadi kunci dalam mendukung ketahanan pangan dan program makan bergizi gratis menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sektor perunggasan saat ini menjadi salah satu tulang punggung pemenuhan kebutuhan protein masyarakat. Produksi ayam dan telur bahkan disebut telah mengalami surplus, sehingga memiliki potensi besar dalam menopang kebutuhan pangan nasional.
Untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan produksi, pemerintah terus mendorong penguatan ekosistem hilirisasi unggas terintegrasi. Upaya tersebut meliputi pengembangan rantai produksi dari hulu ke hilir, seperti pembibitan (GPS dan PS), pabrik pakan, rumah potong hewan unggas (RPHU), hingga fasilitas penyimpanan dingin dan pengolahan.

Selain itu, pemerintah juga mengembangkan kompartemen bebas penyakit serta memastikan jaminan keamanan pangan melalui prinsip ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal).
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Michael Haryadi Wibowo, mengingatkan adanya ancaman penyakit unggas yang masih menjadi tantangan serius.

Penyakit seperti Newcastle Disease dan Avian Influenza dinilai terus berkembang akibat mutasi virus.
Ia menambahkan, faktor lain seperti resistensi antimikroba, multiinfeksi, hingga lemahnya penerapan biosekuriti di tingkat peternakan turut memperburuk risiko terhadap produksi nasional.

“Biosekuriti harus diterapkan secara konsisten, bukan hanya konsep, tetapi praktik nyata di lapangan,” tegasnya.
Dari sisi industri, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utama, menyoroti tingginya biaya pakan dalam struktur produksi unggas.
“Sekitar 70 hingga 75 persen biaya produksi berasal dari pakan, sehingga efisiensi formulasi menjadi sangat krusial,” ujarnya.

Kementerian Pertanian menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri menjadi kunci dalam memperkuat resiliensi sektor perunggasan. Dengan strategi yang tepat, Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *